Bunyi lonceng kayu besar bergema di atas lapangan tanah di Desa Kaliasem, tidak jauh dari Pantai Lovina. Sepasang lembu yang dihiasi bendera kecil melangkah maju dengan sempurna beriringan, ditandu oleh seorang joki yang duduk di ujung tiang kayu. Inilah Sampi Gerumbungan, tradisi yang digambarkan oleh pemerintah kabupaten Buleleng sebagai tradisi yang hanya ada di sini.
Bukan Karapan Sapi, Bukan Makepung
Sampi berarti lembu; gerumbungan adalah lonceng kayu besar yang digantungkan di leher binatang. Tidak seperti Karapan Sapi Madura atau Makepung Jembrana, yang mengejar kecepatan murni, para hakim di sini menilai keindahan dan koordinasi.
- Langkah yang elegan dan sempurna beriringan dari kedua binatang
- Leher yang terangkat dan ekor yang tegak dan melengkung
- Peralatan lengkap: tiang kayu uga, lampit, dan bendera berwarna-warni
- Keterampilan joki dalam menandu dari tiang kayu dengan panjang kira-kira tiga meter
Syukuran Petani
Tradisi ini berkembang di Kaliasem sejak sekitar tahun 1920-an sebagai cara petani berterima kasih atas panen yang melimpah; antropolog Miguel Covarrubias mencatat spektakel serupa di Bali Utara pada tahun 1930-an. Dari sekitar tahun 1986, tradisi ini mulai dipresentasikan sebagai atraksi pariwisata. Lembu peserta biasanya adalah keturunan langsung dari peserta sebelumnya dan membutuhkan bertahun-tahun perawatan — kantor pertanian Buleleng menyatakan sekitar lima tahun — sebelum mereka siap tampil.
Kapan dan Cara Menonton
Kontes biasanya diadakan pada hari Minggu sekitar Juli–Agustus di lapangan Sampi Gerumbungan di Desa Kaliasem, distrik Banjar, sering sebagai bagian dari Festival Lovina dan kadang-kadang dalam Festival Buleleng atau program peringatan kota Singaraja. Jumlah peserta bervariasi; satu edisi menghadirkan 12 pasang dari Buleleng barat, tengah, dan timur. Waktu mulai juga bergerak — beberapa edisi dimulai sekitar jam 8 pagi, yang lain sekitar jam 3 sore — jadi selalu pastikan jadwal terbaru.
Informasi Praktis & Pemesanan
- Lokasi (Google Maps): Lihat di Google Maps
- Tiket & jadwal: menonton di lapangan desa umumnya gratis dan tidak perlu pemesanan; periksa tanggal terbaru melalui situs resmi pemerintah kabupaten Buleleng atau kantor pariwisata Buleleng sebelum Anda bepergian.
- Media sosial: cari di Instagram untuk video dari edisi terbaru.
- Waktu terbaik & tips: tiba 30–45 menit lebih awal untuk mendapat tempat di sisi lintasan; bawa topi, air minum, dan lensa telephoto, karena lapangan akan berdebu. Jaga jarak dari binatang dan ikuti marshal; pengunjung kadang-kadang diundang untuk mencoba menandu sepasang dengan bimbingan pemiliknya.
Jika Anda lebih suka menonton tanpa perjalanan malam hari yang panjang untuk pulang, cari voucher penginapan Lovina dan Bali Utara di AccessiaPass.
Komen 0
Belum ada komen. Jadilah yang pertama memberi komen!