Di Bali Utara ada upacara syukur panen yang nyaris tidak pernah masuk daftar wisata: Ngusaba Bukakak di Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Buleleng. Warga Desa Adat Sangsit Dangin Yeh mengarak bukakak — babi yang diguling setengah matang lalu didudukkan di dalam rangka berbentuk burung garuda dari bambu dan janur. Upacara ini hanya digelar dua tahun sekali, jadi datang di tahun yang tepat sudah setengah perjuangan.
Bukakak dan Filosofi Tiga Warnanya
Nama bukakak dibaca warga sebagai gabungan Lembu (lambang Siwa) dan Gagak (lambang Wisnu). Babinya sengaja tidak dimatangkan seluruhnya sehingga muncul tiga warna sekaligus.
- Merah — bagian punggung yang matang diguling.
- Hitam — bagian yang bulunya sengaja dibiarkan utuh.
- Putih — bagian mentah yang bulunya sudah dibersihkan.
- Ketiganya dibaca sebagai perpaduan sekte Siwa, Wisnu, dan Sambhu — bukan sekadar hiasan.
Rangka garudanya disebut sarad ageng, dihias bunga pucuk bang alias kembang sepatu merah.
Dua Tahun Sekali, Bukan Tahunan
- Digelar pada Purnama Sasih Kadasa, dengan arak-arakan puncak jatuh sehari setelah purnama.
- Edisi terakhir 13 April 2025, sebelumnya 6 April 2023.
- Edisi berikutnya perkiraan 22–23 Maret 2027 karena Purnama Kadasa 2027 jatuh 22 Maret. Tanggal resmi ditetapkan desa adat mengikuti kalender Bali, jadi konfirmasi dulu sebelum membeli tiket pesawat.
- Dulu digelar tahunan, lalu dipadatkan jadi dua tahunan karena beban biaya.
- Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Buleleng pada 2025.
Rangkaian Acara dan Etika Menonton
Rangkaian lengkapnya berlangsung beberapa hari: melasti ke segara sekitar lima hari sebelum puncak, ngusaba uma di pura subak, ngembang dan nuntun tiga hari sebelumnya, pendirian dangsil, lalu ngusaba gede, arak-arakan bukakak, dan ditutup Tari Plaus.
- Pengarak dewasa, laki-laki 17 tahun ke atas, berbusana putih-merah; remaja 12 tahun ke atas berbusana putih-kuning sambil membawa sarad alit.
- Wisatawan boleh menonton, tetapi wajib berkain dan berselendang — ini upacara, bukan pertunjukan.
- Jangan berdiri lebih tinggi dari sesaji atau bukakak, dan jangan memotong jalur arak-arakan demi foto.
- Perempuan yang sedang datang bulan tidak diperkenankan masuk areal pura.
- Parkir di lapangan atau balai desa lalu jalan kaki; ruas jalan desa ditutup saat arak-arakan lewat.
Info Praktis & Reservasi
- Lokasi: Desa Giri Emas, Kec. Sawan, Kabupaten Buleleng — sekitar 10 km timur Singaraja — Lihat di Google Maps
- Waktu: dua tahun sekali pada Purnama Sasih Kadasa; perkiraan berikutnya 22–23 Maret 2027, menunggu keputusan desa adat
- Kisaran harga: tanpa tiket masuk; siapkan dana punia sukarela dan sewa atau beli kain adat sekitar Rp50–150rb
- Reservasi: tidak perlu tiket, datang langsung. Konfirmasi tanggal ke Kantor Desa Giri Emas atau Kantor Camat Sawan, atau pantau pengumuman resmi Pemkab Buleleng
- Instagram: cari di Instagram
Singaraja dan Lovina hanya 20–40 menit dari Giri Emas dan jadi basis menginap paling masuk akal kalau ingin mengejar prosesi sejak pagi. Kalau ingin menginap dekat sini, bandingkan harga dan pesan voucher hotel di AccessiaPass.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!