Dewa Mesraman Paksebali: Ritual Kuningan Paling Tak Biasa di Bali

Setiap Hari Raya Kuningan, halaman depan Pura Panti Timbrah di Desa Adat Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung, berubah menjadi panggung ritual yang nyaris tak ada duanya di Bali. Tujuh jempana — joli berhias tempat melinggih para dewa dan leluhur — dipanggul ratusan teruna desa, lalu dipertemukan dan “diadu” lembut hingga tandu saling bersentuhan. Warga menyebutnya Dewa Mesraman (Dewa Masraman), kini berstatus Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Jalannya ritual: dari megibung ke adu jempana

  • Siang: warga menyiapkan lima jenis lawar sebagai simbol kebersamaan; sekitar pukul 15.00 lawar rampung.
  • Nunas paica & megibung: anak-anak menerima paica, lalu orang dewasa makan bersama dalam kelompok kecil.
  • Mesucian: sekitar pukul 17.00 tujuh jempana diusung ke sumber air Taman Segening di tepi Tukad Unda.
  • Puncak: enam jempana diputar, didorong, dan diadu, sementara satu jempana Ida Bhatara Ratu Lingsir tetap diam. Tari Rejang Dewa dan Baris mengiringi.

Kapan digelar: siklus pawukon 210 hari

Ritual ini jatuh persis pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan dan mengikuti siklus pawukon 210 hari, bukan kalender Masehi — jadi hanya terjadi dua kali setahun. Kuningan terakhir jatuh pada 27 Juni 2026; Kuningan berikutnya diperkirakan Sabtu, 23 Januari 2027. Tetap konfirmasi ke desa adat mendekati hari-H karena jam rangkaian bisa bergeser.

Menonton dengan sopan

Ini upacara hidup, bukan pertunjukan wisata. Jangan berdiri di jalur usungan, jangan mendekat saat jempana diadu, dan ikuti arahan pecalang. Aturan cuntaka juga berlaku: keluarga yang sedang berduka atau baru melahirkan umumnya tidak ikut menyaksikan.

Info Praktis & Reservasi

  • Lokasi: Pura Panti Timbrah, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung — Lihat di Google Maps
  • Waktu: setiap Hari Raya Kuningan; mesucian sekitar pukul 17.00 dan puncak mesraman setelahnya hingga menjelang malam.
  • Tiket: tidak ada tiket masuk — siapkan dana punia (donasi sukarela) seikhlasnya.
  • Pakaian adat: wajib kamen dan selendang/senteng di pinggang plus atasan sopan; bawa sendiri karena tidak ada penyewaan di lokasi.
  • Etika memotret: tanpa flash, tidak memotret dari posisi lebih tinggi daripada pelinggih atau pemangku, tidak menghalangi umat bersembahyang, dan tanpa drone kecuali seizin panitia.
  • Akses: sekitar 1–1,5 jam dari Sanur atau Denpasar lewat Jalan Ida Bagus Mantra, beberapa menit dari pusat Semarapura. Parkir terbatas, datang lebih awal.
  • Info terbaru: cari di Instagram untuk dokumentasi warga setempat.

Puncak ritual baru terjadi menjelang senja dan jalan pulang ke Bali selatan cukup panjang, jadi banyak pengunjung memilih bermalam di Semarapura atau Sanur — voucher hotel AccessiaPass membantu mengunci kamar sebelum pekan Kuningan ramai.

Dewa Mesraman Paksebali: Ritual Kuningan Paling Tak Biasa di Bali Dewa Mesraman Paksebali: Ritual Kuningan Paling Tak Biasa di Bali Dewa Mesraman Paksebali: Ritual Kuningan Paling Tak Biasa di Bali

Siap menginap mewah dengan harga voucher?

Jelajahi hotel partner premium kami dan kunci harga terbaik hari ini.

Lihat Hotel Partner

Komentar 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Jelajahi Lainnya

Artikel menarik lain yang mungkin kamu suka.