Di tepi timur Danau Batur, tersembunyi di kaki perbukitan Kintamani, terdapat Desa Trunyan — sebuah desa Bali Aga (Bali asli) yang telah mempertahankan adat leluhur selama berabad-abad. Desa ini paling mudah dicapai dengan perahu dari Dermaga Kedisan, karena aksesnya nyaris terisolasi oleh danau dan bukit. Perjalanan perahu menyuguhkan panorama danau dan Gunung Batur yang memukau.
Tradisi Pemakaman yang Langka
Trunyan dikenal karena tradisi pemakaman yang tak lazim. Jenazah tidak dikubur maupun dikremasi, melainkan dibaringkan di atas tanah di area pemakaman (Sema) di bawah pohon suci Taru Menyan. Aroma harum dari pohon inilah yang dipercaya menetralkan bau, sehingga tidak tercium meski jasad dibiarkan terbuka. Di sekitarnya tampak tengkorak dan tulang belulang yang tersusun — sebuah pemandangan yang sakral, bukan tontonan.
Etika Berkunjung
Karena ini adalah situs suci, hormati adat setempat. Datanglah dengan sikap sopan dan tenang.
- Sepakati harga sewa perahu di awal, biasanya sekitar Rp500.000–Rp700.000 pulang-pergi untuk satu perahu.
- Sewa perahu melalui dermaga resmi di Kedisan agar aman dan jelas.
- Berpakaian sopan dan jaga ketenangan di area pemakaman.
- Jangan menyentuh atau memindahkan tengkorak dan tulang.
- Siapkan uang tunai untuk donasi/tip sesuai keikhlasan; tanyakan besarannya di muka.
Trunyan adalah pengingat betapa kayanya warisan budaya Bali. Setelah menjelajah Kintamani, perpanjang perjalanan Anda dan cek voucher hotel di AccessiaPass untuk beristirahat dengan pemandangan danau dan gunung.
Info Praktis & Reservasi
- Lihat di Google Maps
- Cara berkunjung: menuju Dermaga Kedisan, lalu sewa perahu dan sepakati harga pulang-pergi sebelum berangkat; hindari calo, gunakan jalur resmi.
- Perkiraan biaya perahu: sekitar Rp500.000–Rp700.000 per perahu (pulang-pergi), belum termasuk donasi.
- Untuk gambaran dan ulasan terkini, cari di Instagram.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!