Di barat Kota Tabanan, sekitar 20 menit dari Tanah Lot, ada desa yang ikut “memberi atap” bagi rumah dan pura di Bali. Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, turun-temurun dikenal sebagai sentra genteng, gerabah, terakota, dan keramik. Pejaten bukan desa wisata berloket tiket—ini kampung produksi yang masih bekerja, dan justru itulah pesonanya.
Sejarah Genteng dan Keramik Pejaten
Menurut penuturan warga yang dicatat tatkala.co, genteng pertama di desa ini dibuat Pekak Rena sekitar 1942, pada masa pendudukan Jepang. Dulu genteng dipesan setahun sebelumnya dan dibayar dengan beras. Mesin pres datang lewat pembinaan pemerintah pada 1982, lalu industri keramik tumbuh sejak pertengahan 1980-an di bawah kepemimpinan I Made Tanteri—nama yang kini diabadikan pada Museum Seni Keramik Tanteri (berdiri 2011).
- Genteng masih dibakar di tungku tradisional gerombong berbahan kayu bakar hingga sekitar 12 jam.
- Keramik Pejaten khas dengan ornamen flora-fauna dan glasir warna lembut seperti hijau lumut dan giok.
- Agustus 2026, Bali Post melaporkan tanah liat premium makin langka sehingga sebagian perajin beralih ke terakota bermotif Bali.
Yang Bisa Dilakukan di Pejaten
- Museum Seni Keramik Tanteri di Banjar Simpangan, dekat perbatasan Nyitdah: koleksi gerabah dan keramik Pejaten serta daerah lain. Registri museum Kemenbud mencatatnya buka 08.00–17.00 dengan tiket gratis.
- Kelas tembikar: studio Tanteri menawarkan workshop dengan putaran listrik, mulai dari mengolah tanah, membentuk, menghias, hingga glasir. Karya perlu dibakar dulu, jadi tanyakan cara pengambilannya. Tarif tidak dipublikasikan—pesan lebih dulu.
- Belanja peralatan makan keramik di galeri dan toko pabrik Tanteri, atau terakota langsung dari perajin rumahan.
- Menyusuri jalan desa melihat genteng dijemur dan tungku berasap; minta izin sebelum masuk halaman atau memotret.
Waktu Terbaik dan Rute
- Datang pagi hingga siang (sekitar 08.00–15.00) saat perajin aktif; hindari hari raya seperti Galungan dan Nyepi.
- Dari Tanah Lot sekitar 20 menit via Kediri; dari Canggu 45–60 menit; dari Ubud sekitar 1–1,5 jam.
- Bawa uang tunai, pakai alas kaki tertutup karena area tungku berdebu, dan minta keramik dibungkus rapi untuk bagasi.
Info Praktis & Reservasi
- Lokasi: Lihat di Google Maps
- Reservasi: jalan-jalan desa dan museum cukup datang langsung; untuk kelas tembikar, hubungi pengelola Museum/Studio Tanteri lebih dulu.
- Instagram: @museumtanteri
- Jam & biaya: museum 08.00–17.00, masuk gratis; parkir di halaman studio atau jalan desa, umumnya gratis; tarif kelas ditanyakan langsung.
Pejaten paling pas dipadukan dengan sore di Tanah Lot. Menginap di Tabanan atau Canggu dengan voucher hotel AccessiaPass membuat kunjungan ke desa tanah liat ini lebih santai, tanpa kejar-kejaran waktu.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!